Bagaimana Plasenta Jadi Sebab Terjadinya Perdarahan Post Partum?

Ketika seorang ibu telah berhasil melahirkan bayinya dengan selamat, terdapat suatu kondisi yang perlu diwaspadai, yaitu perdarahan post partum. Perdarahan post partum dikatakan menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu melahirkan.

Seorang ibu yang baru melahirkan, dapat dikatakan mengalami kondisi perdarahan post partum jika mengeluarkan darah lebih dari 500 ml setelah persalinan normal atau lebih dari 1000 ml setelah persalinan dengan prosedur caesar.

Pada perdarahan post partum primer yang terjadi dalam kurun waktu 24 jam setelah persalinan, terjadi karena tonus uterus atau rahim yang tidak mampu berkontraksi dengan baik untuk menghentikan perdarahan. Sesaat ketika bayi dan plasenta berhasil dikeluarkan, rahim akan terus berkontraksi untuk menutup pembuluh darah. Jika proses kontraksi ini kurang kuat atau berhenti, maka pembuluh darah akan terus terbuka, sehingga mengakibatkan terjadinya perdarahan.

Salah satu penyebab terjadinya tonus uterus adalah persalinan kehamilan kembar. Hal ini terjadi karena ukuran bayi yang terlalu besar atau air ketuban yang terlalu banyak, sehingga Rahim meregang secara berlebihan selama kehamilan. Selain itu, proses persalinan yang terjadi dalam waktu yang terlalu lama atau lebih dari 20 jam, juga menyebabkan rahim menjadi terlalu lemah untuk tetap berkontraksi. Kemungkinan lain yang dapat terjadi adalah ibu menggunakan anestesi saat persalinan yang dapat membuat otot rahim rileks, sehingga tidak mampu berkontraksi cukup kuat.

Penyebab lain perdarahan post partum terjadi adalah plasenta yang tidak keluar. Dalam situasi normal, plasenta akan keluar sendiri dari Rahim setidaknya 30 menit setelah bayi dilahirkan. Namun, jika selama waktu tersebut plasenta tidak juga keluar, ibu berisiko mengalami perdarahan post partum. Hal ini terjadi karena tubuh terus mengalirkan darah ke plasenta selama plasenta tersebut masih menempel pada rahim. Kondisi ini dikenal dengan retensi plasenta dan bisa menyebabkan kematian pada ibu melahirkan.

Retensi plasenta itu sendiri memiliki tiga jenis:

  • plasenta adheren yang terjadi ketika kontraksi rahim tidak cukup kuat untuk melepaskan keseluruhan plasenta
  • plasenta terjebak dalam rahim (trapped placenta), terjadi ketika plasenta terlepas dari dinding rahim, namun belum sempat dikeluarkan ketika mulut rahim telah tertutup
  • plasenta akreta yang terjadi ketika plasenta menempel pada otot dinding rahim, sehingga ketika bayi telah berhasil keluar, plasenta tidak dapat terlepas dari rahim.

Dalam mengatasi perdarahan post partum, membutuhkan tenaga medis andal yang telah dilatih untuk mengenali kondisi dan penyebab perdarahan itu sendiri, sehingga dapat memberikan penanganan yang tepat dan mencegah kematian ibu melahirkan.

Mengenal Limfoma Non-Hodgkin yang sering dikenal dengan Kanker Getah Bening

Mungkin Anda merasa asing dengan istilah limfoma, namun tidak dengan istilah kanker getah bening. Limfoma adalah suatu jenis kanker yang berasal dari kelenjar atau jaringan getah bening.

Salah satu tipe limfoma yang umumnya dilaporkan adalah limfoma non-Hodgkin atau yang disingkat dengan NHL. Kasus limfoma ini menyerang sistem limfatik yang menjadi bagian dari sistem imun tubuh. Umumnya, NHL menyerang kelompok orang dewasa, namun NHL kelompok anak-anak juga rentan terkena penyakit ini.

Faktor penyebab terjadinya limfoma non-Hodgkin (NHL)

NHL terjadi akibat adanya perubahan atau mutasi pada DNA sel darah putih tipe limfosit. Namun, faktor penyebab perubahan DNA tersebut sampai sekarang belum diketahui secara jelas.

Adanya perubahan pada DANN menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan sel tidak berfungsi secara normal. Sel limfosit ini mengalami perubahan dan dapat berkembang pada suatu area di bagian kelenjar getah bening. Nantinya ia akan menyebar ke area kelenjar getah bening lain, seperti leher, ketiak, selangkangan, sumsum tulang, limpa, hati, kulit, hingga paru-paru dan otak. Ada pun faktor yang menyebabkan terjadinya mutasi pada NHL, antara lain:

  • Paparan dari radiasi, kemoterapi, infeksi, maupun bahan kimia karsinogenik.
  • Adanya penurunan sistem kekebalan tubuh, seperti pada penderita HIV/AIDS.
  • Mengalami kondisi autoimun, seperti lupus.
  • Mengalami infeksi virus Epstein-Barr, Human Tcell Lymphotropic Virus, dan Helicobacter pylori.
  • Kelompok usia tertentu, di atas 60 tahun.
  • Kondisi obesitas.

Jika dalam riwayat keluarga terdapat anggota yang pernah mengalami NHL, maka hal tersebut dapat meningkatkan seseorang mengalami NHL.

Apa saja gejala NHL yang perlu diamati?

Beberapa hal yang menjadi perhatian dari gejala NHL, yaitu:

  • Rasa nyeri atau bengkak pada bagian perut.
  • Nyeri pada bagian dada.
  • Batuk disertai sulit bernapas.
  • Bengkak pada area kelenjar getah bening, seperti di area leher, ketiak, atau selangkangan.
  • Mudah merasa lelah.
  • Demam dan berkeringat pada malam hari.
  • Penurunan berat badan tanpa alasan jelas.

Jika Anda mengalami gejala seperti yang disebutkan di atas, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat lebih dini. Dengan begitu, risiko dari NHL dapat dikurangi.

Lindungi Diri dan Lingkungan dari Penyebab Kolera dengan Terapkan PHBS

Penyakit kolera dirasa bukanlah menjadi penyakit genting lagi di Indonesia. Walaupun begitu, penyakit ini tetap hadir di tengah kehidupan masyarakat. Penyakit kolera masih menjadi tema pemberitaan dunia, terutama tentang terjadinya wabah penyakit ini di Yaman dan juga Mozambik. Penyebab kolera tidak lain adalah bakteri Vibrio cholerae yang bekerja dengan menginfeksi pencernaan manusia, sehingga mengikatkan diare akut, bahkan kematian.

Gejala diare pada penyakit kolera berbeda dengan diare yang umumnya diketahui. Pada pasien kolera, tinja pasien memiliki tekstur yang encer dan berwarna, seperti air cucian beras. Penyakit kolera dapat berujung pada kematian, dikarenakan kondisi diare berat yang dapat menyebabkan dehidrasi parah dan membuat pasien mengeluarkan kotoran cair hingga sebanyak satu liter hanya dalam satu jam. Kondisi tersebut berdampak pada hilangnya sebagian besar elektrolit tubuh. Jika tidak diatasi, pasien akan kehilangan nyawanya.

Bakteri penyebab kolera dapat masuk ke dalam tubuh dengan perantara mengonsumsi makan dan minuman yang tercemar bakteri Vibrio cholerae tersebar di alam bebas dan bisa saja mengontaminasi sumber makanan dan minuman manusia.

Faktor yang berkontribusi terhadap munculnya penyakit kolera adalah tidak adanya akses terhadap sarana sanitasi dan air bersih yang memadai. Hal tersebut merupakan penyebab terjadinya kolera yang menyerang negara Yaman yang sedang dilanda peperangan dan juga negara Mozambik yang kala itu baru terkena bencana alam.

Namun, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk menurunkan risiko penyakit kolera. Dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) di mana saja, baik di rumah maupun di mana saja. Selain itu, penting bagi Anda untuk menerapkan kebiasaan baik mencuci tangan menggunakan sabun, baik itu sebelum maupun sesudah makan dan juga ketika akan mengolah makanan dan keluar dari kamar mandi.

Mengonsumsi makanan dan minuman yang telah diproses hingga matang, juga berperan dalam mengurangi risiko terjangkitnya penyakit kolera. Anda juga perlu untuk menggunakan air bersih ketika mencuci pakaian dan peralatan makan.

Jika ada anggota keluarga yang terkena diare, maka sebaiknya tidak mencampuri toilet antara penderita diare dengan anggota keluarga yang sehat. Jangan lupa untuk mendesinfektan kamar mandi secara rutin

Bagaimana Cara yang Ampuh Mengobati Penyakit Panu?

Istilah penyakit Tinea versicolor sepertinya terdengar asing di telinga Anda, bukan? Namun, jika berbicara tentang penyakit panu atau panuan, tentu Anda sudah cukup familiar dengan penyakit tersebut. Tinea versicolor adalah istilah medis untuk penyakit panu yang sering dikaitkan dengan kebiasaan jorok seseorang sebagai penyebab munculnya penyakit ini.

Gejala umum penyakit panu yang sering dikeluhkan oleh orang-orang adalah munculnya bercak kecil berwarna putih di sekitar area punggung, dada, leher, lengan atas, maupun perut. Penyakit panu disebabkan oleh infeksi jamur yang dapat memberikan reaksi kemerahan, kecoklatan, maupun merah mudi pada kulit yang terinfeksi.

Selain itu, pengidap penyakit paru juga mengeluhkan rasa gatal dan kulit bersisik. Jika tidak ditangani sesegera mungkin, bukan suatu hal yang tidak mungkin jika panu tersebut dapat menjadi lebih besar.

Untungnya, obat panu banyak dijual secara bebas dan mudah dibeli di apotek maupun toko obat terdekat. Obat panu ini biasanya diproduksi dalam bentuk salep dengan kandungan zat tertentu, seperti clotrimazole, miconazole, selenium sulfide, atau terbinafine.

Kapan waktu yang tepat untuk berkonsultasi dengan dokter?

Walaupun penyakit panu merupakan salah satu penyakit yang sering ditemui dan pengobatannya relatif mudah, Anda harus tetap waspada jika sewaktu-waktu panu Anda malah berubah menjadi lebih besar. Jika bercak panu tidak hilang dalam kurun waktu seminggu, walaupun Anda telah obati dengan salep, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Jika bercak totol-totol tersebut berubah ukurannya menjadi lebih besar lagi maupun ketika penyakit panu kembali mengganggu Anda, segera konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter agar Anda mendapatkan penanganan yang tepat.

Pemeriksaan penyakit panu umumnya hanya dilakukan dengan pemeriksaan fisik, namun dalam kasus tertentu dokter akan melakukan pemeriksaan lain, seperti mengambil sampel kulit yang terkena infeksi jamur untuk diperiksa di laboratorium. Jika hasilnya menunjukkan bahwa Anda terkena panu, maka dokter akan meresepkan obat panu khusus dengan kandungan ciclopirox, ketoconazole, fluconazole, dan itraconazole.

Anda juga perlu memerhatikan kebersihan kulit Anda dengan meninggalkan kebiasaan buruk, seperti malas mandi, malas mengganti baju, atau berhenti untuk menggunakan handuk dalam keadaan basah agar panu pada tubuh Anda tidak berkembang lebih parah lagi.

Selain itu, panu akan mudah berkembang biak pada tubuh seseorang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah. Maka dari itu, menerapkan pola hidup sehat juga penting untuk dilakukan.

Waspadai Risiko TURP dan Perhatikan Cara Mencegahnya

Kelenjar prostat di dalam tubuh pria akan semakin bertambah besar. Proses ini biasanya terjadi ketika seorang pria menginjak usia 40 tahun. Pembesaran kelenjar prostat menyebabkan terjepitnya saluran kencing atau uretra, sehingga mengakibatkan kesulitan ketika akan membuang air kecil. Kondisi pembesaran kelenjar prostat yang tidak ganas ini disebut dengan Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).

Prosedur operasi prostat untuk BPH umumnya dilakukan dengan metode Transurethral Resection of the Prostate (TURP). Prosedur ini dilakukan dengan membuang sebagian jaringan prostat melalui saluran kencing dengan bantuan endoskopi.

Risiko yang mungkin muncul dari operasi TURP

TURP sebenarnya adalah salah satu prosedur yang umumnya dilakukan untuk menangani kondisi BPH. Walaupun begitu, prosedur ini bukan berarti bebas dari risiko. Beberapa risiko yang mungkin dapat terjadi, yaitu:

  • Kesulitan ketika ingin buang air kecil

Ketika prosedur telah selesai dilaksanakan, pasien akan mengalami kesulitan ketika buang air kecil. Hal ini dapat berlangsung dalam beberapa ke depan. Pasien biasanya dibantu dengan kateter agar proses buang air kecil menjadi lebih lancar.

  • Infeksi pada saluran kemih

Risiko munculnya reaksi lebih tinggi ketika pasien menggunakan kateter dalam jangka panjang. Baik peralatan operasi maupun kateter merupakan media yang dapat mempermudah masuknya kuman ke dalam tubuh.

  • Orgasme kering

Kondisi orgasme kering terjadi ketika cairan semen tidak dikeluarkan dari penis, namun dikeluarkan melalui kandung kemih (retrograd). Sebenarnya, hal ini tidaklah berbahaya sama sekali atau pun mengganggu kehidupan seksual pasien, namun ia akan mengurangi kesempatan pasien untuk memiliki anak.

  • Terjadi disfungsi ereksi

Disfungsi ereksi dapat setelah prosedur dilaksanakan. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan kondisi ini adalahnya jika sel prostat yang membesar berada di dekat area saraf.

  • Perdarahan

Pada saat prosedur dijalankan dan jaringan prostat diangkat, pembuluh darah akan pecah, sehingga meningkatkan risiko perdarahan. Pasien dengan kondisi prostat yang besar berisiko lebih tinggi untuk mengalami perdarahan.

  • Kesulitan menahan buang air kecil

Komplikasi jangka panjang dari prosedur TURP adalah kesulitan menahan buang air kecil atau inkontinensia.

Dengan beberapa cara di bawah ini, diharapkan Anda dapat pulih lebih cepat dan juga mengurangi risiko komplikasi yang mungkin terjadi:

  • Minum air putih dalam jumlah yang cukup.
  • Konsumsi makanan diet dengan jumlah yang seimbang.
  • Hindari berhubungan seksual tidaknya untuk 1-2 bulan.
  • Hindari untuk mengangkat benda dengan beban yang berat.
  • Hindari kebiasaan minum alkohol dan kafein, serta merokok.
  • Hindari mengonsumsi obat yang dapat menyebabkan dehidrasi, seperti dekongestan dan antihistamin.