Menu Close

EMDR therapy, Penanganan Tepat Untuk Atasi Trauma

EDMR therapy

Eye Movement Desensitization and Reprocessing EDMR therapy adalah suatu terapi untuk mengatasi gangguan stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder) atau lebih dikenal sebagai PTSD. EDMR therapy ini dianggap efektif untuk menyembuhkan trauma, tidak hanya berlaku untuk anak – anak, tetapi juga pada orang dewasa yang pernah mengalami perlakuan kekerasan. 

Secara ringkas bentuk kerja dari EMDR therapy ini adalah menguatkan sistem positif dalam diri penderita untuk menangani trauma pada penderita sehingga secara mental emosional mereka jauh lebih kuat dalam menghadapi trauma yang sudah lalu. Dalam EMDR therapy ini terdapat delapan fase terapi.

  • Fase 1: Riwayat pasien dan perencanaan perawatan

Terapis akan mengevaluasi kasus pasien, termasuk kemampuan mereka untuk mentolerir paparan ingatan yang menyedihkan. Mereka kemudian akan merumuskan rencana perawatan berdasarkan gejala orang tersebut dan perilaku yang perlu dimodifikasi.

  • Fase 2: Persiapan

Terapis akan meletakkan dasar untuk perawatan dengan membangun hubungan terapeutik dengan pasien dan mendidik mereka tentang EMDR. Mereka juga akan mengajarkan teknik kontrol diri orang tersebut, yang merupakan cara untuk mengatasi ingatan yang muncul.

  • Fase 3: Penilaian

Selama fase ini, terapis akan mengidentifikasi ingatan traumatis yang perlu ditangani pasien. Pasien kemudian akan memilih gambar untuk mewakili setiap memori, dengan memperhatikan kepercayaan negatif dan sensasi fisik yang menyertai memori ini. Mereka kemudian akan mengidentifikasi pemikiran positif untuk menggantikan kepercayaan negatif.

  • Fase 4: Desensitisasi

Desensitisasi melibatkan pengurangan reaksi mengganggu pasien terhadap memori traumatis, termasuk sensasi fisik yang mereka miliki ketika memikirkannya. Sensasi fisik mungkin termasuk detak jantung yang cepat, berkeringat, atau masalah perut. Terapis memfasilitasi desensitisasi dengan mengarahkan gerakan mata pasien sementara mereka fokus pada bahan traumatis. 

  • Fase 5: Instalasi

Fokus dari tahap ini adalah pada menginstal pemikiran positif yang diidentifikasi pasien pada fase 3.

  • Fase 6: Pemindaian tubuh

Pemindaian tubuh adalah teknik meditasi di mana seseorang memindai tubuhnya dari kepala hingga kaki untuk melihat sensasi fisik yang terjadi. Selama EMDR, terapis akan menargetkan sensasi fisik ini untuk diproses lebih lanjut.

  • Fase 7: Penutupan

Pada akhir setiap sesi, terapis akan menstabilkan pasien menggunakan teknik kontrol diri yang mereka bahas dalam fase 2. Terapis akan menjelaskan apa yang bisa diharapkan pasien di antara sesi. Mereka juga akan meminta pasien untuk menyimpan catatan pengalaman negatif apa pun yang terjadi sehingga mereka dapat menargetkannya di pertemuan berikutnya. 

  • Fase 8: Evaluasi ulang

Fase terakhir melibatkan peninjauan efektivitas pengobatan sejauh ini. Terapis dan pasien juga akan mengidentifikasi efek traumatis tambahan apa pun untuk target.

Tujuan dari EMDR therapy untuk memungkinkan pasien memproses dan mengintegrasikan ingatan traumatis ke dalam ingatan standar mereka. Teori di balik metode ini adalah bahwa mengingat saat – saat sulit dengan distraksi menjadi sedikit merisaukan. Seiring berjalannya waktu, diharapkan dengan EMDR therapy ini paparan ingatan akan mengurangi efeknya. EMDR therapy serupa dalam beberapa hal dengan cognitive behaviourl therapy (CBT therapy) yang juga salah satu terapi untuk PTSD karena pasien diharuskan mengingat atau mendiskusikan peristiwa traumatis serta mengidentifikasi dan mengubah pikiran.

Sejauh ini, EMDR therapy merupakan terapi yang efektif bagi penderita PTSD. Terapi ini merupakan pengobatan yang aman karena menyebabkan reaksi samping yang lebih sedikit daripada obat untuk depresi dan gejala trauma. EMDR therapy pun dapat mempertahankan efektivitasnya setelah perawatan terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *