Menu Close

Penyebab TBC, DIagnosa, dan Perawatannya

Mycobacterium tuberculosis merupakan sejenis bakteri penyebab TBC. Bakteri ini menyebar saat seseorang dengan kondisi TBC aktif batuk atau bersin, dan orang lain di sekitarnya menghirup droplet yang mengandung bakteri. Meskipun cara penularannya serupa, TBC tidak semenular flu atau demam. Anda perlu melakukan kontak langsung selama berjam-jam dengan orang yang menderita TBC untuk tertular bakteri tersebut. Misalnya, infeksi TBC biasanya menular antara anggota keluarga yang hidup di rumah sama. Tidak semua orang yang memiliki TBC dapat menularkan bakterti tersebut. Anak-anak dengan TBC dan infeksi TBC yang terjadi di luar paru-paru tidak menyebarkan infeksi.

Diagnosa

Untuk mengetahui apakah Anda terinfeksi bakteri penyebab TBC, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan guna membuat diagnosa yang tepat. Saat pemeriksaan fisik, dokter akan memeriksa kelenjar getah bening untuk melihat pembengkakan dan menggunakan stethoscope untuk mendengar suara paru-paru saat Anda bernapas. Alat diagnosa yang biasa digunakan adalah tes kulit sederhana, di mana zat PPD tuberculin dalam jumlah kecil disuntikkan di bawah kulit lengan bawah. Dalam waktu 48 hingga 72 jam, dokter akan memeriksa apakah ada pembengkakan pada daerah yang disuntik. Benjolan merah menandakan Anda memiliki infeksi bakteri penyebab TBC. Selain metode pemeriksaan ini, adapula tes lain yang dapat membantu diagnosa, seperti:

  • Tes darah

Tes darah dapat digunakan untuk mengkonfirmasi tuberculosis jenis laten atau aktif. Tes ini menggunakan teknologi canggih guna mengukur reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap bakteri penyebab TBC.

  • Tes pencitraan

Apabila Anda memiliki hasil tes kulit yang positif, dokter akan meminta Anda melakukan pemindaian sinar-X atau CT scan. Tes ini akan menunjukkan bercak putih di paru-paru di mana sistem kekebalan tubuh telah melawan bakteri penyebab TBC, atau menunjukkan perubahan pada paru-paru yang disebabkan oleh TBC aktif. CT scan akan menyediakan gambar yang lebih detail dibandingkan dengan sinar-X.

  • Tes sputum

Apabila sinar-X menunjukkan tanda-tanda tuberculosis, dokter dapat mengambil sampel sputum, lendir yang keluar saat Anda batuk. Sampel kemudian akan diuji guna mencari bakteri penyebab TBC.

Pengobatan

Perawatan TBC membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan perawatan infeksi bakteri lainnya. Untuk kasus TBC aktif, Anda perlu mengonsumsi antibiotik selmaa 6 hingga 9 bulan. Jenis obat dan lama perawatan tergantung pada usia, kondisi kesehatan keseluruhan, resistensi obat, dan lokasi infeksi di tubuh.

Apabila Anda memiliki TBC laten (tidak aktif), Anda perlu mengonsumsi satu atau dua jenis obat. TBC aktif, terutama jenis yang resisten terhadap obat, akan membutuhkan beberapa jenis obat pada waktu yang sama. Obat yang paling sering digunakan untuk merawat tuberculosis adalah isoniazid, ethambutol, rifampin, dan pyrazinamide. Apabila Anda memiliki TBC yang resisten terhadap obat, kombinasi antibiotik yang disebut fluoroquinolones dan obat-obatan yang disuntuk seperti amikacin atau capreomycin biasanya digunakan selama 20 hingga 30 bulan. Beberapa jenis obat dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada perawatan kombinasi obat yang resisten, seperti linezolid dan bedaquiline.

Efek samping obat untuk perawatan bakteri penyebab TBC  jarang ditemui, namun apabila terjadi bisa sangat berbahaya. Semua obat-obatan tuberculosis dapat bersifat beracun untuk hati. Saat mengonsumsi obat-obatan tersebut, hubungi dokter secepatnya apabila Anda menderita beberapa efek samping seperti mual dan muntah, hilangnya nafsu makan, kulit tubuh yang menguning, urin yang gelap, dan demam selama lebih dari 3 hari tanpa adanya sebab yang jelas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *